Zaman Yunani kuno dipandang sebagai
zaman keemasan filsafat, karena pada zaman ini orang memiliki kebebasan untuk
mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai
gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi
mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima
pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu
saja),melainkan menumbuhkan sikap an inquiri attitude (suatu sikap yang senang
menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yangmenjadi cikal
bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli
pikir terkenal sepanjang masa.
Yunani kuno adalah
tempat bersejarah di mana sebuah bangsa memilki peradaban. Oleh
karenanya Yunani kuno sangat identik dengan filsafat yang merupakan
induk dari ilmu pengetahuan. Padahal filsafat dalam pengertian yang
sederhana sudah berkembang jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni
dan mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang
sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi
setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang
pengaruhnya terasa hingga sekarang. Menurut Bertrand Russel, diantara
semua sejarah, tak ada yang begitu mencengangkan atau begitu sulit
diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Memang banyak
unsur peradaban yang telah ada ribuan tahun di Mesir dan Mesopotamia. Namun
unsur-unsur tertentu belum utuh sampai kemudian bangsa Yunanilah yang
menyempurnakannya.
Seiring dengan berkembangannya waktu, filsafat
dijadikan sebagai landasan berfikir oleh bangsa Yunani untuk menggali ilmu
pengetahuan, sehingga berkembang pada generasi-generasi setelahnya. Itu ibarat
pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga
sekarang. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin
untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Zaman ini berlangsung dari abad 6
SM sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring
attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan
tidak menerimapengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap
menerima segitu saja). Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur.
Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya.
Beberapa filsuf
pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras. Socrates, Plato, Democritos dan
Aristoteles.
Zaman Yunani Kuno I
a)
Thales (624-545
SM).
Thales berasal
dari Miletus, ia mendapat gelar Bapak Filsafat karena dialah orang yang bermula-mula
berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar
yang jarang dipertanyakan orang, juga orang pada zaman sekarang, yaitu mengenai
“Apa sebenarnya asal-usul alam semesta ini?”, pertanyaan ini sangat mendasar,
terlepas apapun jawabannya. Namun yang penting adalah pertanyaan itu dijawabnya
dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia
mengatakan asal alam adalah air, karena air adalah unsur terpenting bagi setiap
makhluk hidup. Air dapat berubah menjadi benda gas dan padat seperti uap dan
es, dan bumi ini juga berada di atas air.
Thales sebagai salah satu dari tujuh
orang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Aristoteles memberikan gelar The
Father of Philosoph, juga menjadi penasehat teknis ke-12 kota Ionia. Salah satu
jasanya yang besar adalah meramal gerhana matahari pada tahun 585 SM. Thales
mengembangkan Filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat
dasar, dan struktur komposisi alam semesta. Menurut pendapatnya, semua yang
berasal dari air sebagai materi dasar kosmis. Sebagai ilmuwan pada masa itu ia
mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Ia juga
mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat bahwa bulan
bersinar karena memantulkan cahaya matahari, dan bahwa kedua sudut alas dari
suatu segi tiga sama kaki sama besarnya.Dengan demikian, Thales merupakan ahli
matematika yang pertama dan juga sebagai the father of deductive reasoning (bapak
penalar deduktif).
Thales yang menggebrak cara berfikir mitologis masyarakat Yunani dalam
menjelaskan segala sesuatu. Sebagai Saudagar-Filosof, Thales amat gemar
melakukan rihlah. Ia bahkan pernah melakukan lawatan ke Mesir. Thales adalah
filsuf pertama sebelum masa Socrates. Menurutnya zat utama yang menjadi dasar
segala materi adalah air. Pada masanya, ia menjadi filsuf yang mempertanyakan isi
dasar alam.
b)
Pythagoras (580
SM–500 SM)
Pythagoras lahir di Samos (daerah Ioni), tetapi kemudian berada di
Kroton (Italia Selatan). Ia adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang
paling dikenal melalui teoremanya. Dikenal sebagai Bapak Bilangan, dan
salah satu peninggalan Phytagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang
menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatusegitiga siku-siku adalah sama
dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya). Walaupun
fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras,
namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali
membuktikan pengamatan ini secara matematis. Selain itu, Pythagoras berhasil
membuat lembaga pendidikan yang disebut Pythagoras Society. Selain itu,
dalam ilmu ukur dan aritmatika ia berhasil menyumbang teori tentang bilangan,
pembentukan benda, dan menemukan hubungan antara nada dengan panjang dawai.
Pythagoras yang dikenal
sebagai filsuf dan juga ahli ukur. Ia mengembalikan segala sesuatu kepada
bilangan. Semua realitas dapat diukur dengan bilangan (kuantitas). Karena itu,
dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsure pertama dari alam dan sekaligus
menjadi ukuran. Kesimpulan ini ditarik dari kenyataan bahwa realitas alam
adalah harmoni antara bilangan dan gabungan antara dua hal yang berlawanan.
Kalau segala-galanya adalah bilangan, itu berarti bahwa unsur bilangan
merupakan juga unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilangan
itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tak terbatas. Demikian juga seluruh
jagad raya merupakan suatu harmoni yang mendamaikan hal-hal yang berlawanan.
Artinya, segala sesuatu berdasarkan dan dapat dikembalikan pada bilangan. Jasa
Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan
ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan di kemudian hari sampai hari ini sangat
tergantung pada pendekatan matematika. Galileo menegaskan bahwa alam ditulis
dalam bahasa matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika merupakan sarana
ilmiah yang terpenting dan akurat karena dengan pendekatan matematika-lah ilmu
dapat diukur dengan benar dan akurat. Di samping itu, matematika dapat
menyederhanakan uraian yang panjang dalam bentuk simbul, sehingga lebih cepat
dipahami.
c)
Socrates (469
SM-399 SM)
Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga
ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates
adalah yang mengajar Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar
Aristoteles. sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah
metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang
banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal
sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara
umum. Periode setelah Socrates ini disebut dengan zaman keemasan kelimuan
bangsa Yunani, karena pada zaman ini kajian-kajian kelimuan yang muncul adalah
perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat
menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates.
Socrates
berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan
pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Socrates tidak pernah meninggalkan
tulisan, namun pemikirannya dikenal melalui dialogdialog yang ditulis oleh
muridnya Plato. Metode Socrates dikenal sebagai Meieutike Tekhne (ilmu
kebidanan) yaitu suatu metode dialektika untuk melahirkan kebenaran. Socrates
selalu mendatangi orang yang dia pandang memiliki otoritas keilmuan dalam
bidangnya untuk diajak berdiskusi. Socrates lebih mementingkan metode
dialektika itu sendiri dari pada hasil yang diperoleh. Jadi meskipun Socrates
tidak meninggalkan teori-teori ilmu tertentu, namun ia meninggalkan suatu sikap
kritis melalui metode dialektika yang akan berkembang dalam dunia ilmu
pengetahuan modern.
Zaman Yunani
Kuno II
a)
Democritus (460-370 SM)
Democritus,
dikenal sebagai ‘’bapak atom’’ pertama yang memperkenalkan konsep atom, bahwa
alam semesta ini sesungguhnya terdiri atas atom-atom. Atom adalah materi
terkecil yang tidak dapat di bagi-bagi lagi.
a)
Plato (427
SM-347 SM)
Ia adalah murid
Socrates dan guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah
Republik (Politeia) di mana ia menguraikan garis besar pandangannya pada
keadaan ideal. Selain itu, ia juga menulis tentang Hukum dan
banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Sumbangsih Plato yang terpenting
tentu saja adalah ilmunya mengenai ide. Dunia fana ini tiada lain hanyalah
refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Di dunia ideal semuanya
sangat sempurna. Plato, yang hidup di awal abad ke-4 S.M., adalah seorang
filsuf earliest (paling tua) yang tulisan-tulisannya masih menghiasi dunia
akademisi hingga saat ini. Karyanya Timaeus merupakan karya yang sangat
berpengaruh di zaman sebelumnya; dalam karya ini ia membuat garis besar suatu
kosmogoni yang meliputi teori musik yang ditinjau dari sudut perimbangan dan
teori-teori fisika dan fisiologi yang diterima pada saat itu.
Plato
adalah salah seorang murid dan teman Socrates, ia memperkuat pendapat gurunya
dengan cara menulis ide-ide Socrates. Menurutnya, esensi itu mempunyai realitas
dan realitasnya ada di alam idea. Kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat
bahkan sudah ada di alam idea. Plato berhasil mensintesakan antara pandangan
Heraklitos dan Parmenides. Menurut Heraklitos segala sesuatu berubah, sedangkan
Parmenides mengatakan sebaliknya, yaitu segala sesuatu itu diam. Untuk
mendamaikan pandangan ini Plato berpendapat bahwa pandangan Heraklitos benar,
tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan pendapat Parmenides juga
benar, tetapi hanya berlaku bagi idea-idea bersifat abadi dan idea inilah
menjdai dasar bagi pengenalan yang sejati. Plato juga sangat memperhatikan ilmu
pasti sebagai peninggalan Pythagoras. Sebab ada hubungan yang erat antara
kepastian, matematis, dengan kesempurnaan idea. Keterikatan Plato pada
kesempurnaan idea dan kepastian matematik menjadikannya lebih memusatkan penelitian
kepada cara berpikir (aspek metodis) dari pada apa yang dapat ditangkap oleh
indera. Oleh karena itu, Plato dapat dikatakan seorang eksponen rasionalisme
manakala ia hendak menerangkan sesuatu, namun ia juga seorang eksponen
idealisme manakala menerangkan bidang nilai (aksiologis).
a)
Aristoteles
(384 SM- 322 SM)
Aristoteles
adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang
Agung. Ia memberikan kontribusi di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik,
Ilmu
Kedokteran,
dan Ilmu Alam. Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang
mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.
Sementara itu, di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang
ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki. Dari kontribusinya,
yang paling penting adalah masalah logika dan Teologi (Metefisika).
Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive
reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari
setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya
ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive
thinking). Logika yang digunakan untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan
yang dikemukakan oleh Aristoteles didasarkan pada susunan pikir. Masa keemasan kelimuan
bangsa Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia berhasil menemukan
pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu
sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logika Aristoteles
berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme (syllogisme).
Selain nama-nama di atas, masih ada filosof-filosof seperti Anaximander
(610 SM-546 SM) dengan diktum falsafinya bahwa permulaan yang pertama, tidaklah
bisa ditentukan (Apeiron), karena tidaklah memiliki sifat-sifat zat yang
ada sekarang. Anaximenes yang hidup pada abad ke 6 SM., masih satu generasi
dengan Anaximander, ia berpendapat bahwa zat yang awal ada adalah udara. Ia
menganggap bahwa semuanya di alam semesta dirasuki dengan udara. Demokreitos
(460-370 SM), ia mengembangkan teori mengenai atom sebagai dasar materi, sehingga
ia dikenal sebagai “Bapak Atom Pertama”. Empedokles (484-424 SM) adalah seorang
filsuf Yunani berpendapat bahwa materi terdiri atas empat unsur dasar yang ia
sebut sebagai akar, yaitu air, tanah, udara, dan api. Selain itu, ia menambahkan
satu unsur lagi yang ia sebut cinta (philia). Hal ini dilakukannya untuk
menerangkan adanya keterikatan dari satu unsur ke unsur lainnya. Empedokles
juga dikenal sebagai peletak dasar ilmu-ilmu fisika dan biologi pada abad 4 dan
3 SM. Dan juga Archimedes, (sekitar 287-212 SM) ia adalah seorang ahli
matematika, astronom, filsuf, fisikawan, dan insinyur berbangsa Yunani.
Archimedes dianggap sebagai salah satu matematikawan terbesar sepanjang masa,
hal ini didasarkan pada temuannya berupa prinsip matematis tuas, sistem katrol
(yang didemonstrasikannya dengan menarik sebuah kapal sendirian saja), dan ulir
penak, yaitu rancangan model planetarium yang dapat menunjukkan gerak matahari,
bulan, planet-planet, dan kemungkinan konstelasi di langit. Dari karya-karyanya
yang bersifat eksperimental, ia kemudian dijuluki sebagai Bapak IPA
eksperimental.
Sebelum masuk periode Islam ada yang menyebut sebagai periode
pertengahan. Zaman ini masih berhubungan dengan zaman sebelumnya. Karena awal
mula zaman ini pada abad 6 M sampai sekitar abad 14 M. Zaman ini disebut dengan
zaman kegelapan (The Dark Ages). Zaman ini ditandai dengan tampilnya
para Theolog di lapangan ilmu pengetahuan. Sehingga para ilmuwan yang ada pada
zaman ini hampir semua adalah para Theolog. Begitu pula dengan aktifitas
keilmuan yang mereka lakukan harus berdasar atau mendukung kepada agama.
Ataupun dengan kata lain aktivitas ilmiah terkait erat dengan aktivitas
keagamaan.
Pada zaman ini filsafat sering dikenal dengan sebagai Anchilla Theologiae
(Pengabdi Agama). Selain itu, yang menjadi ciri khas pada masa ini
adalah dipakainya karya-karya Aristoteles dan Kitab Suci sebagai
pegangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar